Upilachyne's Blog

Blog Kalang Kabut

refleksi: bukan pijat badan, tapi hati

leave a comment »


Apa yang pertama kali yang kamu lakukan saat kamu sadar, kamu telah tertipu. Kaget, setengah gak percaya, dan yang lebih menyakitkan dari itu adalah MALU. Perasaan malu itu yang membuat kita melakukan hal-hal yang �aneh� untuk mengangkat kembali harga diri kita dari lembah sebutan �orang goblog�. Dan hal seperti itu terjadi pada� Ibu X.
Lama gak nulis di blog. Dan ternyata bikin kaku jari buat ngetik. Kesibukan sebagai orang yang sukses jadi �buruh� di sebuah pabrik, perbandingan yang tipis antara rentang waktu kerja dan rentang waktu tidur (plus kencan tentunya) membuat ku males ngapa-ngapain, termasuk nulis. Mata udah lelah lihat garapan di pabrik, udah gak kuat lagi lama-lama liat monitor nyala, maklum umur�
ASTAGA!! Umur ya? Aku sudah 29, hampir kepala tiga dan belum ada barang sedikit tanda-tanda akan menikah. Well� itu masalah lain, dan tak perlu dibahas. Ada konflik internal yang membuat aku terpaksa berpacaran sampai 3 tahun lebih (tahun ini tahun keempat).
Maaf jadi curhat. Seharusnya aku bahas tentang Ibu X. bukan tentang waktu tidur, dan perjaka tua.
Kembali lagi tentang Ibu X. Ini pengalaman pribadi. Tadi pagi (aku ngetik tulisan ini maghrib), aku yang terkena flu berat terpaksa tidak dapat menjalankan ibadah �kerja�. Iseng-iseng ngabisin waktu luang nunggu Jamsostek buka (buat cari tiket gratis gak masuk kerja tanpa potongan bayaran) dengan wira-wiri di dunia maya. Browsing dari dalam kamar mencari �. Samsung galaxy s3 mini. Cuman liat harga� gak niat beli. Tapi ternyata jadi niat beli setelah lihat harga salah satu penjual di tokobagus yang miring. 1.650.000. Padahal waktu tulisan ini ditulis, harga masih berkisar antara 2-2,3 juta. Apalagi ada embel-embel BU yang artinya �Butuh Uang�.
Aku klik judulnya, muncul penampakan gambarnya�. Baca deskripsi hati-hati�
-Kartu garansi hilang
-Lengkap full set
-Ada retakan di casing belakang
Keterangan ke tiga yang membuat harga tersebut menjadi wajar, karna aku sempat tahu kalau sparepart casing belakang s3 mini ori dari Samsung seharga 200rb-an lebih. Jadi total 1.650 (hape) + 250 (casing) = 1950, sebuah harga yang murah tapi wajar untuk hape sekelas itu.
Aku telpon orangnya.
Direject
Telpon orangnya
Direject lagi
Nyerah, tapi melek lihat sms masuk.
�Saya masih sekolah gan�.
Setelah penjelasan singkat, aku setuju ngecek barang jam 12 siang di sebuah wilayah perumahan elit daerah Sidoarjo. Udah lupa kalau flu, pinjem duit temen bentar, stater sepeda butut merek prima, aku ngacir langsung ke TKP (orang-orang yang jual beli online selalu menyebut tempat ketemuan dengan TKP).
Ketilang sebentar di daerah pabrik paku daerah bungur gara-gara spion gak orisinil (what the �. Selama ini gak pernah ada masalah sama spion), salam tempelku ditolak dengan sadis, hati jadi galau, sidang?? Ojok sampek!, garuk-garuk kepala sebentar, ada tangan awe-awe di deket meja tengadah. Ow� aku paham ternyata kalau salam tempel kudu lebih tertutup� he he he� terima kasih pak, jasamu akan ku kenang selalu, kataku dalam hati terharu melihat tangan itu ngasih SIM dan STNK balik.
Mereka orang baik, aku orang jahatnya. Toh tugas mereka nilang dan sudah menjadi tugasku ditilang, dan aku menolak dan malah nyuapin suami orang�
Next. Shock juga baru tahu kalau spionku gak standar, aku lanjutkan perjalanan, dan sampai ke TKP.
Yang buka pintu bapaknya, anaknya masih sekolah dan barang dititipkan anaknya, aku dipersilahkan duduk dengan sopan, barang dikeluarkan dan anehnya instingku tidak menangkap adanya kilau cahaya dari boxnya. Ini barang replika, batinku.
Berharap instingku salah, soalnya harga murah, aku cek barang. Dibolak-balik� gak tau apanya yang mau dicek, sampai akhirnya aku nyalakan.
Aku cek di menu tentang telepon. Bener kok.
Cek IMEI, *#06#.. dicocokin ke dusnya. Sip kosong. Lho, IMEI di dus tidak tertempel pada tempatnya. Bolak-balik dicek tetep gak ada. Aku nangis dalam hati� beneran replika.
Masih tak percaya, aku cek di telepon *#0*#. Menu standar Samsung untuk ngecek fungsi dasar telepon. Tapi menu itu tak kunjung tiba meskipun beberapa kali aku masukkan kombinasinya (Barangkali aku salah pencet)
*#0#* gak keluar
*#00#* gak kluar
*#*#0#*#* AYO KLUAR!!!!

Gak ah, dihapeku yang masih kubawa bisa kok pake *#0*#.
Aku sadar, keinginanku untuk membuat hape replika yang kupegang menjadi asli sangat tinggi dan sia-sia. Aku berhenti ngecek menu test Samsung dan beralih ke bodi. Kali ini aku sudah lepas keinginan untuk memiliki tapi berganti menjadi keinginan untuk memahami barang replika itu seperti apa sih.
Barang kuputar-putar 360 derajat, dan perhatianku tertuju ke retakan casing belakang yang sesuai dengan iklan
�Masnya yang nelpon semalem ya?� tanyanya basa-basi membuatku sadar kalau bapak yang tadi ngasih barang telah berubah wujud menjadi ibu-ibu di sampingku.
�Bukan bu, baru tadi pagi saya janjian��. Kataku sambil mengamati penampilannya, ibu yang kalem.
Sambil ngobrol basa-basi, aku lanjutkan pengenalanku akan barang replika. Baterai hamil satu bulan (mlembung dikit), dengan tulisan made in china and assembled in china. Setahuku emang produksi masal barang-barang elektronik yang masuk ke Indonesia berasal dari Cina, Vietnam dan Thailand meskipun menerapkan standar dari pabrikan masing-masing.
Yang membuatku tertarik adalah merk yang tertulis di body dalam hape yang tadinya tertutup baterai.
Sansong.
�Kenapa mas?� Tanya si ibu yang nungguin.
Tak sadar aku tertawa lirih dan terdengar olehnya.
Masih mengamati tulisan kecil-kecil itu, aku �nyeplos� bilang, �Ini bukan barang asli bu��.
Astaga� aku tertegun sejenak. Kok berani-beraninya aku nyacat barang dagangan orang di depan yang jual!! Aib yang harus kutanggung sampai akhir hayatku sebagai petualang cinta!!! (gak nyambung gak papa kan? Soalnya lidahku udah kepleset).
�Gak asli gimana mas? La itu belinya sama Omnya�.
Terpaksa aku memberi penjelasan.
�Ini barang replika bu, Imei tidak tembus.. dan blablablabla��, kujelaskan apa yang aku pelajari dari tadi megang barang dagangan ini.
�Lho iya ta mas? Anakku kebujuk brati?�.
�Maaf lo bu, bukan saya mau jatuhkan harga, tapi kalau replika seperti ini, harganya masih di bawah 1 juta�.
Bapak yang tadi menyilahkanku masuk rupanya di dalam rumah dengar pembicaraan kami. �Kalau gitu saya pesan satu mas!!�. Emosinya meledak.
Gawat, aku terlalu sok pintar, jadi gak enak proses jual beli.
�Wah mas� kalau nawar jangan kebacut.!!!� Kata si ibu. �Itu belinya masih harga tiga juta dulu, kalau sekarang masih sekitar 2.5 an��
�Iya bu, sekali lagi maaf, ini memang bukan barang asli� jadi� maaf lo bu, saya gak jadi beli�. Aku buru-buru membereskan barang yang tadi sudah ku bolak-balik masuk ke dalam kotaknya.
�Masa anak saya beli barang palsu?� Katanya dengan nada agak naik.
Aku sadar diri dan segera pamit.
�Bener bu, maaf saya sarankan iklannya ditarik, biar gak ada yang salah tanggep nanti bu�.
Sudah mendelik, si ibu nganter aku ke gerbang sambil nggremeng�
Bisa apa aku? Aku cuman bisa stater sepeda dan kabur.

Di perjalanan pulang aku flashback kejadianku sejak berangkat tadi. Begitu banyak kepalsuan hari ini.
Sakit flu ku, benarkah aku terlalu lemah untuk bekerja atau aku terlalu malas untuk bangun? Nyatanya, saat ini aku sudah di ujung lain kota.
Tilang, banyak persepsi yang bilang bapak berseragam yang �cari-cari�. Faktanya… bukankah aku yang berinisiatif untuk menempelkan sesuatu di tangan mereka? Agar tak perlu jauh-jauh ke pengadilan, meskipun banyak yang bilang sengaja dibuat berbelit agar keluar duit. Aku belum pernah sampai sidang lalu lintas, jadi belum tahu seberbelit apa.
Entah penipu yang terlalu pintar atau kita yang terlalu bodoh, penipuan barang elektronik palsu sudah marak, tapi informasi yang berkembang tentang kewaspaadaannya malah seperti tidak ada, sebuah acara TV malah mengikis kepercayaan masyarakat akan tempe, tahu, terasi dan beberapa makanan tradisional lain dengan kasus zat pewarna dan borax. Sedangkan informasi keaslian barang impor sulit didapat.
Kemarahan si ibu untuk menutupi malu, aku rasa reflek manusia, andaikan aku berada di posisinya, tidak tahu dan kaget, antara rasa malu dan emosi, bisakah aku tidak ngangkat kursi trus nglempar yang bilang aku tertipu?
Hewh�. Hujan mengiringi kepulanganku ke kost, menghapus sejenak niatku untuk beli spion standar.
Welcome back kost ku tercinta. Aku pengen tidur.

Written by upilachyne

23/07/2014 pada 11:26 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: