Upilachyne's Blog

Blog Kalang Kabut

small trip by accident

leave a comment »


17 agustus 2014
Aku. g planning sebelumnya akan berlibur ke daerah Probolinggo. Kalau kalian dengar kata Probolinggo, jelas pikiran pasti melayang ke tempat wisata bernama ‘gunung bromo’. Yup! benar sekali, aku memang pergi ke Gunung Bromo. Tanpa persiapan berarti. Cuman sepasang sarung tangan ‘nitip’ dibelikan temen. Sejak berakhirnya hubungan dengan mantan, aku emang sering cari suasana baru, teman-teman baru, kesibukan baru yang notabene akhirnya jadi sok sibuk. Memang semuanya cukup menghibur dan mulai memudarkan luka (sori jadi curhat).
Alkisah…. aku di BBM  sama temen ngajak ke bromo beberapa hari sebelumnya, mengingat ada temen kost yang juga ngajak ke Bromo, aku tolak mentah-mateng…
Tapi… hari Kamis, gak tau tanggalnya, dia ngajak secara langsung di tempat kerja. Alasan pertama yang keluar ya.. ‘sori,  …. gak ada gandengan, gak enak . ‘ Alasan yang aku pikir pasti diterima tanpa terluka (mengingat dia sering tak ajak dolan. sekarang diajak balik, kok malah nolak… kan gak enak…).
Ups… alasanku kurang tepat, soale yang nawarin langsung ‘woro-woro’ sama temen kerja yang ada di sekitar. Dan… dapet deh temen…
Nego dikit, sepakat berangkat ma dia. Tapi… Jumat malam yang rencananya berangkat ma aku batalkan keberangkatan. Itu memaksa aku ubah planning liburan week end, planning urus job yang terbengkelai muncul. . . dan sejak pulang kerja Jumat sore, aku bergelut dengan job yang sudah aku susun rapi.
Tapi sabtu siang, yang tadi batalkan rencana update status BBM kalo pengen ke Bromo. Lagi buntu sama job ku, iseng tak tawarin berangkat ma aku, dan… Ya wes, siap berangkat (padahal aku gak ada persiapan sama sekali gara2 job yang sudah tak susun).
Tak hubungi temen lain yang pengen ikut juga. Mereka deal, aku atur formasi sepeda motor dan tinggal tunggu tanggal tayang saja…
TAPIIIIIII!!!
Ternyata dia batalin lagi keberangkatan karna emang gak bisa berangkat (ku maklumi itu). so… bongkar lagi rencana sampe temen yang lain muncul dan membuatku memutuskan berangkat.
Mbulet ya? aku juga bingung…
he he he… gak papa, skip saja sampai keberangkatan di Alinea bawah-bawah…
Singkatnya, jam 11 aku baru siap2, padahal jam 12 malam sudah berangkat!  Dengan pengetahuan seadanya tentang touring (aku emang gak pernah ikut acara ginian), grup berisi 9 sepeda motor meluncur menuju Probolinggo.
Jujur saja, sejak awal kumpul sama kelompok ini aku asing… cuman beberapa yang aku kenal, plus minim juga pengalaman perjalanan luar kota dengan bersepeda motor, nambah aku canggung.
Tak banyak kisah menarik yang perlu diceritakan selama perjalanan. Cuman ban bocor salah satu anggota, nyaris kehabisan bensin, dinginnya wilayah bromo, kehilangan tas ransel, bekunya tangan…
lho, banyak ya? Aku males cerita panjang lebar, soalnya emang gak ada istimewanya untuk disimak.
Tiba di pintu masuk menuju laut pasir, rombongan membeli tiket @50rb (harga hari libur, kan tepat tanggal 17 agt). Ajaibnya, ntah korting atau gimana, 9 sepeda yg terdaftar cuman dihitung 400rb. Dengan kata lain 1 sepeda gratis masuk. Otomatis, uang sisa disimpen untuk kelak keperluan lain.

Perlu diceritakan, bagi yang belum pernah ke bromo, pintu masuk ke gunung bromo sendiri berada di tepian laut pasir yang mengurung kawah bromo. Sedangkan puncak atraksi wisata ini berada di tengah lautan pasir. Kawah bromo yang bersanding dengan gunung batok.
Jalan menuju laut pasir dibatasi tikungan tajam menurun yang berpasir. ‘mulut’ laut ini biasa digunakan mereka yang kemping untuk memasang tenda. Para pemburu matahari pagi bromo yang terkenal bela-belain nginep agar subuh bisa mendaki.
Sayang, kabut ternyata turun di laut pasir. Rombongan terpaksa kehilangan view yang tak ternilai! Gak berani nekat turun, rombongan cuman bisa gosok2 tangan kedinginan di pinggir laut pasir. Bakar2 apa yang bisa dibakar, kertas bungkus nasi, tiket, rumput kering, kayu ranting…

Ha ha ha… mamel, gak terlalu besar apinya, asap seng akeh… tpi lumayan..ilusi hangat sementara nunggu kabut hilang.
Sinar matahari mulai memudarkan kabut, menampakkan tugu-tugu yang berbaris rapi menjadi pemandu bagi mereka yang melintasi padang pasir. Beberapa sudah rubuh, beberapa lagi malah sudah hilang ditelan cuaca. Tapi cukuplah… Meskipun gak sepenuhnya dapat dijadikan penuntun (soalnya jalan pasir, susah dilewati sepeda motor, banyak yg lewat pinggiran cari pasir yang padat), tapi cukup menjadi patokan ke arah jembatan. Sebenarnya jembatan di sini berfungsi hanya menjembatani padang pasir pinggiran dengan padang pasir yang ada di tengah. Sebetulnya ceruk yang memisahkan tidak terlalu dalam. hanya sekitar satu meter, tapi ceruk ini menjadi cukup dalam kalau yang melintas di atasnya adalah sepeda motor atau mobil.

Sebetulnya selain sepeda motor, kendaraan alternatif untuk melewati lautan pasir di gunung ini adalah kuda dan mobil jip, namun untuk wisatawan lokal, harga yang dipatok untuk naik kendaraan itu cukup mahal. Untuk jip sendiri kira-kira sampai 700 ribu rupiah. Harga yang cukup menguras kantong. Untungnya rombongan menggunakan sepeda motor. Yang meskipun terseok-seok melewati pasir, tapi cukup cepat dibandingkan dengan berjalan kaki.

Sebetulnya ada beberapa obyek wisata di dalam lingkungan bromo. Cuman yang pasti sudah terkenal di kalangan wisatawan lokal maupun manca tentu kawahnya itu sendiri. Selain upacara kasodo yang apesnya saat rombongan tiba tidak diadakan, ternyata ada juga pemandangan dari daerah “penanjakan” menjadi atraksi istimewa lain yang kurang di ekspos.

Menurut penulis pribadi, perjuangan mendaki lereng kawah tetep kalah asik dengan pemandangan dari laut pasir itu sendiri. Background bukit yang memutar di sekeliling terasa sejuk, apalagi saat matahari masih tidak terlalu panas. Warna biru langit yang tertangkap kamera jauh lebih mengasikkan dari sekedar kepulan asap putih dari sebuah lubang yang disebut kawah. Gak keren blas. Ditambah lagi aroma alami dari (bukan belerang) kotoran kuda di sepanjang jalan menuju puncak kawah yang berdebu membuat enggan untuk naik kalau lain kali ke sini lagi (DIJAMIN).

Tapi entah kurang lengkap rasanya kalau tidak naik ke kawah. Setelah parkir motor di tempat yang disediakan (karcis 5ribu), foto-foto sama kawan-kawan, lirak-lirik cewek yang bertebaran, perjalanan naik ke kawah tetap dijalankan. Tapi… enggan melewati tangga yang telah disediakan (dengan alasan antrinya WOW!!), rombongan lebih memilih jalur alternatif tanpa tangga. Cukup menantang, dan tentu melelahkan…. Tapi justu di sinilah pemandangan terbaik didapat.

Seperti yang diceritakan di awal, hanya lubang berasap yang dapat dinikmati di puncak. Tapi kelelahan cukup terbayar dengan pemandangan ke arah bawah. Lautan pasir yang menghampar, padang rumput kering di ujung utara, tebaran acak pohon yang mencoba hidup di tengah terik matahari menambah keren pemandangan. Di bawah dapat dilihat warna-warni baju para pendaki yang berjejalan naik ke atas, mobil jip yang berjajar menunggu penumpang, kuda yang merangkak naik, lengkap.

Berbeda dengan waktu naik, rasanya jalan turun jauh lebih mudah kalau lewat tangga. Selain karna hari masih cukup pagi, arus wisatawan yang turun dari kawah justru sedikit. Hal ini yang membuat rombongan memutuskan untuk turun lewat tangga. Meskipun sedikit pelan, tapi sampai juga ke bawah. Its end… Bromo, we leave…

Perjalanan tidak berakhir sampai di sini… nanti akan ada cerita lagi. Kami mampir ke Madakaripura

Written by upilachyne

19/08/2014 pada 3:03 pm

Ditulis dalam trip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: